Posts

Showing posts with the label pendidikan

SEMINAR, AKHIR CERITA TUGAS AKHIR II

Image
Jika sasaran TA I adalah proposal, TA II adalah: DATA. Maka dari itu, berbeda dengan TA I yang kita hanya akan berkutat dengan teori, TA II kita akan terjun langsung ke lapangan. Hambatan dan stress level meningkat secara signifikan dibandingkan TA I. Dan jika bukan karena passion, saya udah give up di tengah.  Mengurus Mencit Bagaikan Mengurus Anak Kenapa anak Farmasi istriable? Karena dia terbiasa mengurus mencit, maka mengurus anak bukan lagi hal yang baru. Hahaha. Pertama, makanan dan minuman jangan sampai habis. Jika habis, kanibalisme akan terjadi. Kemudian, 1 minggu sekali kandang harus dibersihkan, dicuci, dan diganti sekamnya. Dipipisin? Udah biasa. Dipupin di tangan? Udah biasa. Digigit? Alhamdulillah belum pernah. Tapi mereka lucu dan menyenangkan kok, literally. Just like a baby. Tapi, itu mencit NORMAL!!! Mencit saya mencit yang dibuat trauma. Tahukah kau bahwa tiap kali mencit ini habis disetrum-setrum, mencit ini jadi beringas. Bisa loncat setinggi...

CERITA "INDAHNYA" TUGAS AKHIR I

Image
"Kalau nggak mau susah, nggak usah kuliah." (Mr. M) http://fc01.deviantart.net Quote Mr. M ini sungguh terasa ketika menginjakkan kaki di tahun terakhir kuliah. Apalagi, kalau bukan karena kehadiran makhluk seram yang bernama T.A. Flashback ke belakang ketika saya berada di tingkat 2 dan mendengar keluhan kakak-kakak yang sedang TA, batin saya "Apaan sih, lebay". Dan akhirnya saya tahu, keluhan itu memang tidak lebay sama sekali. Okay, kisah ini saya awali dari semester 6. "Gilee, si X udah ngetag dosen pembimbing?" "Yekali nel, Bu Y aja udah penuh tuh, udah full booked." "What the ****? Orang-orang yang terlalu ambis atau saya yang kelewat selow??" Then, kegalauan muncul ketika di tengah-tengah pelajaran Bioteknologi, salah satu mata kuliah favorit saya, Bu Debbie mengatakan bagi siswa yang berminat TA di Biotek, diharapkan mendaftar dan mengirimkan CV serta motivation letter, untuk kemudian diseleksi. FYI, TA di Biotek ...

JIKA SAYA MENJADI DOSEN

Image
Ini hanya pengandaian belaka. Jika saya menjadi dosen, saya tidak akan mempermasalahkan jumlah kehadiran mahasiswa. Nggak masalah kalau dia tidak pernah datang ke kelas saya. Selama nilai ujiannya cukup bagus tanpa mencontek, ya sudah, lulus. Lalu kehadiran untuk apa? Hanya untuk melihat usaha. Sebagai contoh ada mahasiswa yang nilainya jelek, tetapi dia selalu hadir di kelas saya dan berkelakuan baik, bisa saja saya meluluskannya. Nah, kalau dia nilainya jelek, dan sering absen di kelas saya, baru saya tidak menolerirnya. Toh sebenarnya, dengan mahasiswa membaca textbook dan tanpa datang ke kelas saya, mungkin saja dia bisa menguasai materi yang saya ajarkan di kelas. Bukankah otak manusia itu luar biasa? Kita bisa kan mempelajari apapun secara otodidak sebenarnya? Beberapa orang menggunakan sarana kuliah hanya untuk mencari titel formal. Sebenarnya kalau orang itu belajar sendiri pun, mungkin dia bisa. Jika saya menjadi dosen, saya tidak akan mempermasalahkan mahasiswa y...

FREAK REASON DI BALIK AMBIS

Image
AMBIS! Another slogan for this semester. Why? Neli yang super selow tiba-tiba ambis? Neli yang jarang membuat targetan, mendadak jadi memiliki segudang target dan mau jadi sok sibuk begini? Simple saja, ada satu aturan hidup di dunia ini. Selalu ada alasan di balik segala sesuatu, jika kamu mampu melihatnya. Begitu pula perubahan saya. I HAVE TO MOVE ON!!! Kesibukan adalah pelarian yang tepat. Ya, semakin sibuk, saya semakin mudah melupakan hal-hal yang tidak ingin saya ingat. Saya makin mudah melupakan kenangan-kenangan yang tidak ingin saya ingat. Bukan karena buruk, justru karena terlalu indah. Saya makin mudah meninggalkan masa lalu saya. Saya makin mudah meredakan homesick saya. Saya ingin bekerja seperti kuda. Ngampus pagi, pulang malam. Di kos tinggal tidur. Maka saya harus tetap aktif, saya harus tetap bergerak. Walaupun fisik saya lelah, setidaknya hati saya tidak lelah. Saya ingin kembali kepada prinsip saya. Berguru pada abangnya sherlock, Mycroft Holmes, ...

PADA AKHIRNYA, TETAP HARUS MEMUTUSKAN

Image
Be Grown UP! That's the right slogan for this last year. Karena di tahun inilah, entah kenapa begitu banyak hal yang harus diputuskan, yang harus dipilih. Bagi seseorang yang selalu mengagungkan yang namanya TAKDIR, memilih dan memutuskan adalah hal yang selalu sulit. Bagi pemuja TAKDIR, selalu saja ingin dipilihkan. Ingin sesuatu terjadi, yang menghapus opsi-opsi yang ada, dan hanya menyisakan satu pilihan. Sehingga tidak perlu memutar otak untuk memutuskan. Mungkin itu adalah sisi kanak-kanak saya. Saya tidak berani memilih. Saya tidak berani memutuskan, karena takut diminta pertanggungjawaban. Takut untuk menyesal. Ingin dipilihkan, sehingga seandainya pilihan itu salah, ada pihak yang bisa disalahkan. Ingin hanya ada satu pilihan, sehingga jika endingnya tidak baik, saya kan bisa berkata, "Waktu itu cuma ada satu pilihan. Lha saya bisa apa?"  So CHILDISH!!!  Hei, pernah mendengar suatu riset menarik?   Suatu riset pernah dilakukan terhadap 6 negara (USA, In...

BERBAGI TENTANG 'MENJADI SEORANG JURNALIS'

Image
Menjadi jurnalis sedikit banyak telah mengubah hidup saya, telah mengubah beberapa karakter saya. Saya menjadi lebih gampang untuk memulai percakapan dengan orang baru, berbasa-basi, walaupun kadang garing. Memang hingga sekarang banyak yang masih berpendapat bahwa saya pendiam, tapi ini jauh lebih mending daripada saya yang dulu. Dengan sering mewawancarai orang dari berbagai macam background, sedikit banyak saya berlatih untuk bisa menggunakan bahasa yang tepat kepada orang yang tepat. Bagaimana berbicara formal dengan dosen, berbicara hangat kepada karyawan atau pegawai, dan berbicara santai kepada mahasiswa. Selain itu, saya bertemu dengan berbagai karakter unik. Ada yang berbicara panjang kemana-mana. Sebaliknya, ada yang ditanya panjang 2-3 kalimat, jawabannya hanya satu kata. Ada yang sok sibuk, ada yang sibuk beneran sampai harus berkali-kali ganti jadwal wawancara. Ada yang berkomitmen memenuhi janjinya, ada juga yang lupa kalau sudah berjanji untuk wawancara (saki...

WAS I BORN TO LOVE WRITING?

Saya ingin mengenang sedikit masa lalu saya di bidang tulis menulis. Tidak cerah memang, tapi lucu untuk dikenang. Dari sejak saya lahir, saya seperti tidak ditakdirkan untuk memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Nilai ujian nasional paling jelek dari SD, SMP, maupun SMA sudah dapat ditebak, yaitu Bahasa Indonesia. Ujian pilihan ganda saja tidak bisa, apalagi ujian esai. Kacau balau setiap ada tugas mengarang, membuat esai, cerita, puisi, dan sebagainya. Hal yang saya benci karena saya tidak bisa menuliskan apa yang ada di pikiran saya. Tulisan saya macam anak SD yang sangat kaku dan benar-benar SPOK. Saya memang aneh. Biasanya orang yang senang membaca, juga senang menulis. Saya kutu buku, sangat kutu buku (sejak saya bisa membaca), tetapi tidak doyan menulis. Hingga suatu ketika semuanya berubah. Saat kelas XII SMA, saya bertemu dengan seorang guru Bahasa Indonesia yang luar biasa, namanya Bu Uswatun. Berbeda dengan sistem yang digunakan guru-guru lain dalam mengajar, beli...

PERLUKAH MENCATAT SAAT KULIAH?

Image
Postingan saya saat ini agak kontradiktif dari postingan sebelumnya yang menyarankah untuk "MENULISLAH!!!" Semua ini berawal dari berbulan-bulan sebelumnya, bahkan bertahun-tahun sebelumnya, namun pemicunya hari ini. Kejadian di kelas imunologi: (Saya duduk paling depan, dosen menjelaskan, semua orang sibuk menatap buku catatan masing-masing, dan tentu saja mencatat apa yang dikatakan dosen) (Dosen menghampiri saya) D: "Kamu gak mencatat?" S: (diam, hanya tersenyum, dalam hati deg-degan takut dimarahi) D: "Oh saya tidak melarang ya kalau Anda tidak mencatat. Saya ini salah satu penganut liberal science juga. Itu berarti otak Anda cemerlang. Gak masalah Anda tidak mencatat, yang penting lulus ujian. Kan, gitu?" S: (tersenyum kaku, ingin melakukan pembelaan, tapi menurut saya sia-sia) Jadi, saya menulis pembelaan di sini. Kenapa saya tidak mencatat? Bukan karena malas. Bukan karena tidak suka mata kuliahnya atau dosennya. Sama sek...

SCIENCE, POWER & USAGE

Image
Sebuah sentakan yang cukup keras hari ini datang dari dosen saya. Beliau memang suka keluar topik dari kefarmasian ketika memberikan kuliah. Tetapi justru itulah yang saya sukai dari beliau, selalu menceritakan hal-hal yang dapat membuka pikiran dan hati kami. Entah bermula dari mana, tiba-tiba beliau mengawali topik ini. "Ada yang tahu SBY itu mendapat doktor di bidang apa?" "Agribisnis." => (nyari di wikip lebih tepatnya ekonomi pertanian sih) "Nah sekarang bagaimana keadaan bisnis pertanian di negara kita?" --- hening dan merenung ---- "Itulah kita, orang Indonesia." "You have SCIENCE. You have a POWER. BUT YOU CAN'T USE IT!!!" Beberapa permasalahan yang ada di Indonesia adalah kurangnya komunikasi antara scientist dengan pembuat kebijakan. Scientist mungkin saja memiliki berbagai ide inovatif yang dapat menjadi solusi untuk permasalahan yang ada saat ini. Tetapi, dia tidak punya kuasa untuk mengapl...

MENGAPA KITA BUTUH MENULIS?

Image
Mengapa kita butuh menulis? Jawaban yang akan saya bahas disini bersifat sangat subjektif. Bukan jawaban ilmiah. Jawaban saya singkat, padat, dan tidak jelas. Orang butuh menulis karena  “TIDAK ADA DUA ORANG YANG SAMA PERSIS DI DUNIA INI, BAHKAN KEMBAR MONOZIGOT SEKALIPUN.” Pasti bingung dan terkesan tidak koheren antara pertanyaan dan jawaban. Seperti ini penjelasannya. Pernahkah kita punya suatu pemikiran, uneg-uneg , perasaan atau apapun itu yang ingin kita keluarkan? Ingin kita ceritakan kepada orang lain? Dan hal itu bukan sekedar sesuatu yang beres diceritakan dalam waktu 5-10 menit. Ketika kita membahas hal itu dengan sangat antusias atau dengan emosi yang mendalam, bahasan itu tidak akan selesai 2-3 malam (agak lebay). Sayangnya kita tidak akan pernah menemukan orang yang sama persis dengan kita di dunia ini untuk kita ajak berbagi pikiran dan perasaan tersebut. Beberapa respon yang sering muncul ketika kita menceritakan hal tersebut dengan orang lain: Awalnya ...

EFEK SISTEM PERUBAHAN KURIKULUM 5 TAHUNAN, “KURIKULUM GADO-GADO”

Image
(Ini merupakan sebuah artikel hasil wawancara saya dengan salah seorang Dosen Matematika mengenai perubahan kurikulum ITB 5 tahunan yang sekarang sedang hangat-hangatnya bagi anak Farmasi ITB, terkait isu adanya Semester Pendek Wajib untuk mata kuliah yang dihapus atau diturunkan semesternya.) Perubahan kurikulum melupakan ritual wajib ITB yang dilakukan lima tahun sekali. Sistem yang telah diterapkan sejak dulu ini diciptakan untuk mengantisipisasi perkembangan zaman. Pada tahun ini, 2013, sudah waktunya bagi prodi-prodi di ITB untuk memperbarui lagi kurikulumnya setelah kurikulum terakhir diperbarui pada tahun 2008. Perubahan dan keadaan dinamis selalu mendatangkan pro dan kontra dari berbagai pihak yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan perubahan tersebut. Sistem yang sudah ada selama ini sebagai warisan dari pendahulu kita dirasa kurang efektif untuk diterapkan menurut salah seorang dosen Matematika ITB, Dr. Hendra Guawan. “Kalau ditanya pendapat saya, terus t...

PENDIDIKAN INDONESIA, CERMINAN DARI KONDISI MASYARAKAT INDONESIA

Image
“Pendidikan Indonesia Gagal”, begitulah asumsi publik terhadap kondisi pendidikan di negara kita. Kekecewaan tersebut datang manakala output pendidikan tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Output yang diharapkan masyarakat secara garis besar adalah pendidikan mampu mencetak manusia-manusia unggul dan berkualitas yang diharapkan mampu membawa perubahan positif bagi Negara Indonesia. Karena realitas yang terjadi di Indonesia seperti ini, wajar saja jika publik menilai pendidikan di Indonesia gagal. Ahmad Muchlis, Dosen Matematika ITB, berpendapat bahwa akar permasalahan dari sistem pendidikan di Indonesia adalah disorientasi.  “Kita sendiri sebenarnya tidak tahu pendidikan kita mau dibawa ke mana. Jadi, untuk membenahinya tentu diperlukan orientasi yang jelas dari sistem pendidikan di Indonesia. Hal ini tentu saja menjadi tanggung jawab bersama.” Pendidikan formal di Indonesia selama ini lebih terorientasi pada nilai ( mark ) bukan nilai ( value) . Hal ini tercermin d...